Ta Ada Cinta Di Dunia (2)

 

Pandangan Pertama

Aku

Bagaimana menurutmu tentang “cinta datang dari pandangan pertama?”

Mata

“Tidak sepenuhnya, bahkan terkadang tidak sama sekali. Karena, aku mencintai Tuhanku dengan kesucian hati, meski aku belum pernah melihat-Nya.”

Hati

“Apa yang dikatakan dia itu benar, karena aku juga begitu. Rasa cintaku kepada ibu yang telah melahirkanku, sudah ada sejak sebelum aku mengenal wajah menawan seorang ibu.”

Kulit

“Aku juga, terpaan tiupan angin, sungguh aku sangat mencintainya. Meski diri ini belum juga melihat seperti apa wujud dirinya yang sesungguhnya.

Pikiran

“Kalau aku lain, karena aku tidak bisa melihat ataupun merasa. Maka maafkan jika diri ini tiada ungkapan yang indah seperti apa yang kalian ucapkan.”

Akal

“Wajar saja kalau dia berkata begitu, mungkin dia enggan. Karena, hak sepenuhnya untuk bicara adalah diriku.

Aku

“Sudahlah, katakan apa yang ingin engkau sampaikan, jangan berbelit-belit.”

Akal

Perasaan yang timbul dari pandangan pertama mempunyai tiga arti: pertama, itulah hasrat cinta; kedua, dialah getaran nafsu; dan ketiga, perpaduan antara cinta dan nafsu.”

Mata

“Hai, dari mana engkau mendapat pengertian itu?”

Akal

“Tanyalah pada hati, karena dia lebih tahu dariku.”

Hati

“Mungkin benar apa yang akal ucapkan, karena keduanya itu keluar dariku.”

Pikiran

“Lalu apa perbedaan dari keduanya?”

Hati

“Kalau ini, akal yang lebih tahu, karena tiap hari dia senantiasa menyertai mereka.”

Akal

“Jawab dulu apa yang ditanyakan mata, sebelum engkau melemparkan pertanyaan dari pikiran padaku.”

Hati

“Nafsu timbul karena tidak adanya keseimbangan antara akal dan pikiran, maka yang terjadi adalah keinginan sesaat dan keputusan yang tergesa-gesa. Berbeda dengan cinta, tapi untuk ini, nanti saja.”

Aku

“Nah sekarang, giliranmu akal.”

Aqal

“Baiklah, kebanyakan nafsu diawali oleh ilusi dan khayalan, nafsu keluar karena rasa ketidakpuasan, dan ujungnya hanya sebuah pelampiasan. Sedang cinta, dia lahir melalui proses pencarian, dia berjalan dengan pertimbangan, dan dia wujud karena adanya penyatuan.”

Pikiran

“Sungguh, aku menjadi bingung, apakah tidak ada cara yang lebih mudah untuk membedakannya?”

Hati

“Pada maksud dan tujuan.”

Aku

“Hai hati, kenapa engkau malah menambah persoalan baru?”

Hati

“Kalau engkau ingin mengerti cinta, maka jangan sekali-kali menolak jawaban itu.”

Aku

“Baiklah aku akan berusaha.”

Hati

“Dari nafsu maksud jahat akan timbul, maka yang terjadi adalah tujuan yang tiada guna. Kerusakan, kesenangan, kemunafikan, keangkuhan, kesombongan bahkan ketidakadilan. Meski dirinya memakai kedok kebaikan. Dari cinta awalnya memang menyakitkan, karena dia adalah obat. Mengobati itulah maksud yang terkandung, dan penyadaran adalah tujuannya sebagai bukti pengabdian.”

Mata

“Dari mana engkau mendapat jawaban itu, sedang aku yang menjalani saja tidak tahu.”

Hati

“Dari akal, karena dirinya yang dapat berpikir, dan dariku sendiri karena aku yang merasa.”

Aku

“Lalu, apa gunanya mata?”

Akal

“Saudaraku, mata adalah pintu gerbang bagi kita. Karena, tanpa dirinya kita tidak akan mengerti apa-apa, termasuk cinta.”

Pikiran

“Kalau telinga?”

Akal

“Sebagai pengganti saat dirinya tidak bisa bekerja.”

Aku

“Bisakah cinta hadir dalam pandangan pertama?”

Akal

“Bisa saja, Jika hati ikut serta.”

Pikiran

“Apakah selama ini mata tidak berkerja dengan hati?”

Hati

“Bekerja, namun kami tidak menyatu.”

Aku

“Mengapa?”

Hati

“Karena aku tidak lagi suci. Diriku terpenuhi noda-noda ketersesatan yang telah dirinya perbuat.”

Mata

“Hai hati, mengapa engkau menyalahkan aku. Bukankah nafsumu yang membuat aku berbuat seperti itu.”

Hati

“Memang, tapi kenapa engkau mau?”

Mata

“Hebat, hebat! Dirimu memang pandai memutar balikkan fakta. Coba sekarang tanyakan nafsumu. Bukankah dia juga membutuhkan?”

Hati

“Baiklah, aku akan bertanya padanya. Hai nafsu! Benarkah apa yang dikatakan mata?”

Nafsu

“Benar, namun pikiran yang membujukku.”

Pikiran

“Hai nafsu, kenapa aku kau bawa-bawa?”

Nafsu

“Karena cuma kamu yang bisa berbuat itu.”

Pikiran

“Betul katamu! Tapi, aku sekadar pelaksana, akal yang menyuruhku.”

Akal

“Hai pikiran! Beraninya kamu menuduhku.”

Pikiran

“Apa? Menuduh! Sungguh, engkau memang munafik akal.”

Aku

“Sudah, sudah, jangan diteruskan. Ini semua juga kesalahanku, karena ketidakberdayaanku. Yang penting sekarang, apakah memang bisa cinta itu hadir dalam pandangan pertama?”

Mata

“Bisa! Asal nafsu tidak ikut serta.”

Aku

“Apa mungkin?”

Hati

“Mungkin! Jika pikiran tidak lagi mengganggu.”

Mata

“Hai hati! Kamu jangan gila. Apa kamu tidak menyadari, selama akal masih ada, pikiran akan selalu mengganggunya.”

Hati

“Kalau begitu?”

Aku

“Ya, hanya kamu yang dapat mencegahnya.”

Akal

“Bukan! Bukan dia saja yang bertanggung jawab. Melainkan aku dan dia yang akan menyadarkan nafsu. Asal dia dan aku bisa menyatu, nafsu dapat kami hentikan.”

Aku

“Lalu kapan itu terjadi?”

Hati

“Saat dirimu memahami kami.”

Aku

“…?”

 

 

 

,KOMUNITAS JALAN SUNYI



Ta Ada Cinta Di Dunia (1)

 

Ketika Aku Bertanya Cinta?

Dan inilah kehidupan, malam-malam berlalu dengan sepi, menjemput pagi yang terisi torehan sinar sang mentari. Siang hadir tawarkan segenggam asa, untuk meraih senja terbalut kabut asmara. Adakah rindu yang masih tersimpan? Atau hanya kegelisahan dalam kesunyian? Entahlah! hati ini hanya bisa berbisik dalam sedih.

“Apa yang sedang kau pikirkan? tanya hatiku.

“Menunggu kenyataaan penyejuk kalbu,” jawabku.

“Kenyataan apa yang kau tunggu?”

“Apa pedulimu bertanya itu kepadaku?”

Hatiku terdiam, seakan menyesali apa yang telah dia lakukan. Begitu juga aku, tubuh ini terbaring lesu, menatap hampa langit-langit ruang batin. Malam kian larut dalam kesedihan, menemani aku yang masih sendiri dalam ketidakpastian. Suara angin terdengar merdu, memainkan irama musik mendung kelabu. Tiada nyanyian, atau rangkaian syair-syair lagu. Hanya gelombang hasrat yang semakin menderu, menghantam dinding-dinding kosong ruang sukmaku. Tarikan nafasku berjalan pelan, seiring aku ajukan pertanyaan.

“Wahai pikiran, dari mana datangnya cinta?

“Dari mata turun kehati.”

“Aku tidak percaya?”

“Tanyakan sendiri padanya!”

Aku terkejut, tubuhku kaku dan mulutku terasa kelu. Apakah dirinya marah padaku, ketika aku bertanya itu. Atau dirinya tidak senang, karena aku tiada percaya dengan apa yang dia ungkapkan. Aku bingung dalam ketidaktahuan, sungguh apa yang harus aku lakukan? Tuhan, untukku berikan aku ampunan. Tanpa kusadari mata ini berbisik.

“Kawan, apa yang engkau sedihkan? Bukankah engkau sudah mendapat jawaban.”

“Memang, tapi itu belum memuaskan.”

“Apa maksudmu?”

“Karena engkau hanya dapat melihat tanpa bisa merasa, lalu bagaimana engkau dapat mengerti arti cinta.”

“Benar, aku hanya dapat melihat tanpa bisa merasa, karena aku bukan hati.”

“Kalau kamu menyadari itu, lalu mengapa engkau menyetujui?”

“Bukan persoalan setuju atau tidak, namun aku harus bagaimana? Merekalah yang telah memperlakukan aku seperti ini.”

Kulihat tetesan embun mengalir dari celah kamar kedukaan, kerling bola matanya menjadi sembab. Tanpa terasa aku pun hanyut dalam pusaran badai kepiluan. Kucoba untuk menghiburnya dengan persembahan kata maaf. Namun, apa yang kudapat? Goresan luka yang terlalu dalam untuk dilupakan.

“Saudaraku, apa yang telah dirimu perbuat dengannya?” Tanya akalku.

“Akal, sungguh, bukan maksud hati untuk menyakiti, namun apa daya diriku tiada mengerti.”

“Apa sebenarnya yang engkau cari?”

“Makna cinta dari ketulusan hati.”

“Belum cukupkah apa yang telah mereka beri?”

“Akal, apa yang harus aku jawab untuk pertanyaan ini? Mereka mengatakan cinta datang dari mata turun kehati. Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak dapat melihat dengan mata, haruskah aku mengatakan hal yang sama?”

“Kalau itu permasalahannya, coba tanyakan telinga.”

Kutundukkan wajah dengan penuh rasa malu, aku ragu apakah telinga berkenan untuk menerima kebodohanku. Aku terdiam sesaat, sebelum kemudian,

“Wahai telinga, sudikah engkau memberi tahu?”

“Saudaraku, bagi mereka yang tidak dapat melihat, cinta datang dari telinga turun ke hati.”

“Lalu, dengan apa engkau memutuskan itulah cinta?”

“Dengan suara yang keluar dari rasa.”

“Dari mana engkau mendapatkan rasa itu?”

“Terus terang, dari hati.”

“Sekarang, jika dirimu tiada dapat mendengar, dari mana engkau akan mengambil keputusan?”

“Dari kulit yang membalutku.”

“Mengapa?”

“Karena dia dapat merasakan suatu getaran yang menyentuhnya, meski tanpa melihat dan mendengar.”

“Lewat apa dia merasakan itu?”

“Aliran darah yang menyesaki seluruh urat nadi tubuhnya.”

“Bagaimana kalau kulit itu terluka, dan aliran darahnya keluar atau terhenti membeku. Apakah dia juga masih bisa merasa?”

“Tidak!”

“Lalu dengan apa?”

“Hati.”

“Baiklah! Namun, mungkinkah hati dapat mengerti jika tiada sentuhan itu?

“Tidak!”

“Lalu dengan apa?”

“Akal.”

“Sanggupkah akal memberi keputusan tanpa pertimbangan hati?”

“Tidak!”

“Lalu, kapan aku akan mengerti jika jawabanmu hanyalah tidak, tidak, dan tidak?”

“Masih ada lagi saudaraku.”

“Apa itu?”

“Pikiran.”

“Ha… ha… ha… kamu mulai gila rupanya, sejak kapan pikiran keluar tanpa akal?”

“Saudaraku, maafkan aku jika belum bisa memberi jawaban itu.”

“Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, jawaban apapun itu tidak menjadi soal. Dari manapun datangnya cinta itu sama saja, karena yang terpenting adalah cinta itu sendiri. Dan itulah yang sebenarnya aku belum mengerti dan memahami.”

Kami terdiam dalam renungan masing-masing. Mencari, mencari, dan mencari. Jangan putus asa, hanya itu yang terus berkobar dalam jiwa ini.

“Saudaraku, dari mana engkau akan mulai mencari wujud sesungguhnya cinta?” akal tiba-tiba bertanya.

“Dari mata.”

“Mengapa?”

“Karena kebanyakan manusia menggunakannya.”

“Apakah selain dirinya, mereka tidak menggunakan?”

“Menggunakan tetapi tidak sepenuhnya.”

“Karena apa?”

“Karena matalah mereka mengerti keindahan, keanggunan, kebaikan, keburukan, kebodohan, kepandaian, kelicikan, dan kejujuran.”

“Baiklah kalau itu maumu, mari kita mulai.”

Aku mencoba menenangkan jiwa, meski masih agak gemetar, kupaksa diri ini untuk menghilangkan perasaan itu.

Malam terus merangkak, seiring diriku berjalan menjelajahi jiwa-jiwa keterasingan.

 

Oleh, KOMUNITAS JALAN SUNYI

 

Cinta Itu Ya Cinta (2)

 

Jika kukatakan cinta laksana sekuntum bunga mawar, kutakut engkau akan memetiknya, kemudian mawar itu layu menyembunyikan keindahannya. Jika kukatakan cinta laksana setetes embun, kutakut engkau akan mengambilnya, kemudian ia akan sirna terhempas kehangatan sang mentari. Jika kukatakan cinta laksana kupu-kupu, kutakut engkau akan menangkapnya, dan ia pun menangis karena perpisahannya dengan bunga.

Rumpun bunga seakan tercipta,

untuk melayani kupu-kupu.

Namun sesungguhnya,

ia ada karena kupu-kupu melestarikannya.

Jika kukatakan cinta laksana cahaya, kutakut engkau teramat sulit mencarinya, padahal ia senantiasa nyata. Jika kukatakan cinta laksana rembulan, kutakut engkau terlalu sibuk mamandangnya, hingga dirimu tak sadar jika fajar telah datang. Jika kukatakan cinta laksana api, kutakut engkau tak sudi melewatinya, hingga kau habiskan waktu dalam penantian. Jika kukatakan cinta laksana air, kutakut engkau mengotorinya, hingga bening warnanya berubah menjadi kelam.

Cinta itu ya cinta,

usahlah ia kau rekayasa.

Biarlah ia bersemi,

menyebarkan harum wewangian.

Jika kukatakan cinta adalah keindahan, kutakut engkau akan menghiasinya dengan hal-hal yang menjijikkan. Jika kukatakan cinta adalah kebaikan, kutakut engkau akan melukainya dengan keburukan. Jika kukatakan cinta adalah kebahagiaan, kutakut engkau akan mengisinya dengan kedukaan. Jika kukatakan cinta adalah kelembutan, kutakut engkau berlaku kasar saat tidak mendapatkannya.

Biarlah cinta tetap bersembunyi dalam kerahasiaanya, sehingga aku dapat leluasa mengaguminya. Biarlah cinta tetap bersemayam jauh di kedalaman, sehingga aku akan senantiasa menyelaminya. Jika kau bertanya padaku, “Dengan apa kamu memahaminya?” Jawabanku adalah, “Kupahami ia saat dirimu mempertanyakannya.” Jika kau bertanya, “Dengan apa kamu menemuinya?” Jawabanku adalah, “Dengan sesuatu yang tak kukatakan padamu.”

Kueja setiap kata,

kuurai setiap makna.

Kucoba bersabar,

namun yang kutemukan hanyalah?

Cinta itu ya Cinta.

Jika kukatakan cinta adalah kesunyian, kutakut engkau terlalu lama dalam kesendirian, karena engkau terlalu cepat menyimpulkan. Jika kukatakan cinta adalah kebersamaan, kutakut engkau terlalu asyik dalam keramaian, hingga engkau lupa akan hak dan kewajiban. Jika kukatakan cinta adalah harapan, kutakut engkau tenggelam dalam impian. Jika kukatakan cinta adalah ketakutan, aku tak sanggup menyaksikan engkau menjalani hidup dengan penuh kecemasan.

Jika kubisikkan, “Untuk apa mencari cinta?” Engkau pasti menjawab, “Apa pedulimu jika aku menemukannya.” Jika kututurkan, “Cinta itu ada di hati.” Engkau pasti menimpali, “Seharusnya tidak terjadi patah hati.” Jika kujelaskan, “Cinta tidak perlu dimengerti.” Engkau pasti mengejekku, “Kalau begitu dijalani.” Dan jika kupaparkan, “Cinta harus begini dan begitu.” Engkau pasti tertawa, “Apalah artinya celotehanmu?”

Kuseka air mata,

lembaran itu masih terbuka.

Kucoba pejamkan mata,

catatan itu semakin nyata.

Kuambil dan kubakar ia,

cinta itu ya cinta.

Inilah cintaku, inilah perasaanku, suara hati yang aku sendiri tak mengerti, apalagi memahami. Lalu, bagaimana dengan cintamu, ke mana perginya cinta kita?[]

 

 

Oleh; Khâdim Komunitas Jalan Sunyi

 

Cinta Itu Ya Cinta (1)

 

Kalau tangan Anda tergores pisau kemudian mengeluarkan darah, dan mata Anda menangis karenanya, maka itulah bentuk kecintaan mata Anda kepada tangan Anda. Dan jika tangan Anda menyeka air mata yang membasahi pipi, maka itulah bentuk kecintaan tangan Anda kepada mata Anda. Ikatan cinta keduanya terjalin sejak lama, bahkan semenjak Anda sama sekali tidak menyadarinya.

Kalau kaki Anda tertusuk duri, kemudian mulut Anda merintih karenanya, maka itulah bentuk kecintaan mulut Anda kepadanya. Kalau mulut Anda merintih, kemudian kaki Anda melanjutkan langkah guna menghiburnya, maka itulah bentuk kecintaan kaki Anda kepadanya. Ikatan cinta keduanya tidak membedakan kasta, meski Anda sendiri cenderung membedakannya.

Mana yang lebih mulia antara kaki dan kepala? Antara telinga dan mata? Antara mulut dan hidung? Antara tulang dan kulit? Antara hati dan jantung? Atau antara kuku dan gigi? Jawabannya mengikuti seberapa besar diri Anda mencintai bagian-bagian dari anggota tubuh Anda itu sendiri. Semakin besar rasa cinta Anda, maka semakin kecil Anda membuat perbedaan di antara mereka.

Kalau Anda meminum segelas air, kemudian Anda tidak lagi merasa haus, itulah bentuk kecintaan Anda pada air dan tenggorokan. Kalau Anda memakan sepiring nasi, kemudian Anda merasa kenyang, itulah bentuk kecintaan Anda pada nasi dan perut. Saat Anda merasa lega setelah mengeluarkan angin kentut, kotoran tinja, atau air kencing, itulah bentuk kecintaan Anda pada organ tubuh dalam yang telah melakukan kewajibannya.

Cinta Anda kepada mereka mungkin menjadi perwujudan cinta yang paling tulus dari Anda, meski selama ini Anda sama sekali tidak menyadari atau bahkan sama sekali belum sempat mengungkapkannya. Cinta Anda terhadap mereka berproses dan memuai secara alamiah tanpa harus membedakan apakah Anda seorang anak kecil, remaja, orang dewasa, laki-laki, perempuan, wadam (Hawa-Adam), atau bahkan orang tua yang sudah pikun.

Tak seharusnya cinta terucapkan,

jika kenyataan terlanjur membuktikan.

Karena kata hanyalah bahasa,

yang terkadang sulit dipercaya.

Cinta itu ya cinta,

sekadar nama terserah kita memaknainya.

Cinta itu ya cinta, dan siapa pun berhak menafsirinya; saya, Anda, dia, dan mereka, masing-masing dari kita mempunyai pilihan sendiri untuk menentukan ke mana arah perjalanannya. Apakah ia akan berlabuh di tepian pantai, dan menjelma menjadi butiran pasir? Apakah ia akan berdiam di atas sehelai daun, dan menjelma menjadi tetesan embun? Apakah ia akan berhenti di atas tumpukan kayu, dan menjelma menjadi kumpulan rayap? Atau apakah ia akan bersemayam di dalam nyala api, dan menjelma menjadi kepulan asap?

Cinta tak perlu diperdebatkan, karena cinta bukan pertanyaan atau jawaban. Cinta tak perlu didialogkan, karena ia bukan wacana atau gagasan. Cinta tak perlu dirumuskan, karena ia bukan tesis (teori) atau sintesis (kesimpulan). Cinta tak perlu dicari, karena ia tidak pernah hilang atau bersembunyi. Cinta tak perlu dikejar, karena ia tak pernah lari atau menghindar.

Cinta itu ya cinta, di mana pun kita berada, di situlah cinta menampakkan cahayanya. Cinta itu ya cinta, ke mana pun kita melangkah, di situlah cinta hadir merekah. Cinta itu ya cinta, sesuatu rela berkorban untuknya, dan ia rela berkorban untuk sesuatu yang mencintainya. Cinta itu ya cinta, semakin sulit kita memahaminya, semakin dalam kita mencintainya.

Cinta itu ya cinta,

ia tampak dalam seribu warna.

Terkadang hadir membawa harapan,

lalu pergi meninggalkan kesedihan.

Tersenyum di balik duka,

menangis di tengah gelak tawa.

Cinta itu ya cinta,

sejak kapan kita mengenalnya?

Cinta itu ya cinta, inilah cintaku, inilah perasaanku, lalu bagaimana dengan cintamu?[]

oleh: Khâdim Komunitas Jalan Sunyi

 

Sepahit Madu

Oleh `Izzat Anwari bin Hasni

"Sudikah anti jadi isteri kedua saya?" tanya Fikri tegas dan yakin.

Tiba-tiba mata Fatimah merah, air mata mulai berlinang di kelopak bawah.

"Tak kusangka akhi sudah beristeri! Akhi jahat! Sanggup mempermainkan hati saya.
Akhi ingat, saya ta akan  pernah sudi? Hah!" pekik Fatimah dengan suara tersekat-sekat.

Mata Fikri liar melihat kiri kanan, mungkin ada siapa yang memandang perlakuan dia kepada Fatimah. Bukan takut akan pandangan manusia, tetapi karena lagak Fatimah yang langsung tidak selaras dengan penampilannya.

"Saya ingat kita lama berkawan, akhi masih bujang. Tapi rupa-rupanya. .."
Fatimah mulai sendu.

"Enggak. Maksud saya....."

"Sudah! Jangan bermulut manis lagi. Cukup!" potong Fatimah dengan kasar.

"Akhi Nampak seperti alim, tapi sanggup menipu saya. Dan akhi sanggup melamar saya menjadi isteri kedua akhi. Akhi ingat saya ini siapa?" suara Fatimah semakin tinggi, setinggi egonya.

Fikri diam seribu bahasa. Dia sudah tahu `Fatimah’ di balik Fatimah yang dia kenal selama ini.

Fatimah bergegas dari situ sambil mengelap air mata dengan jilbab lebarnya berwarna kuning. Dalam hatinya, Fikri seolah-olah menghinanya apabila membujuknya untuk dimadu.

Fikri muram. Namun masih terselip kekecewaan di sudut hatinya. Kekasih hatinya belum bersedia rupa-rupanya.

" Ada hikmah," bisik hati kecil Fikri, sekecil pandangannya terhadap Fatimah.

Ujung minggu berjalan seperti biasa. Program-program dakwah menyibukkan jadual Fikri sebagai seorang muslim yang beramal dengan apa yang diyakininya. Harta serta jiwanya banyak dihabiskan untuk memenuhi tuntutan dakwah dan keluarga yang seringkali memerlukan pengorbanan yang tidak bersedia berbagi. Namun, hatinya tegas dan yakin bahwa inilah jalannya. Jalan yang membawa dia menemui Tuhannya dengan hati yang tenang serta bahagia di hari kelak.

Keyakinan serta keaktifan Fikri berdakwah sedikit banyak mendapat perhatian gadis-gadis dalam jemaahnya. Malah, Fikri dilihat sebagai calon suami yang bakal memandu keluarganya nanti ke arah memperjuangkan agama yang dianutinya sejak sekian lama. Sudah terlalu ramai muslimah yang menaruh hati padanya, namun, Fatimah terlebih dahulu rapat dan memenangi hati Fikri. Bagi Fatimah, Fikri seperti pelengkap kepada dirinya. Namun, hanya pada saat Fikri melamarnya menjadi isteri kedua.

Fikri masih lagi aktif dalam dakwah meskipun hubungannya dengan Fatimah nampak seperti tiada jalan penyelesaian. Dia mau berbaik dengan Fatimah, namun sikap Fatimah yang keras dan kurang memahami arti dakwah membatukan usaha Fikri tersebut. Bagi Fatimah, Fikri tak ubah seperti lelaki lain.

Gerak kerja dakwah Fikri berjalan seperti biasa. Siangnya ke hulu ke hilir memenuhi program serta amal jariah kepada masyarakat. Malamnya sibuk dengan berdiskusi dengan sahabat-sahabat seangkatannya. Fikri semakin percaya jalan dakwahnya, sama sekali dia tidak akan beranjak dari jalan ini, hatta datang ancaman sebesar gunung sekalipun.
Dia terlalu matang, jauh sekali daripada pemikiran pendakwah lain yang semudanya.

Namun, Allah s.w.t. Maha Mengetahui lagi Maha Pemurah. Sekali lagi Dia mengantar seorang perempuan untuk menguji Fikri,apakah dia menjadi penyemangat atau pelemah bagi dakwah Fikri.

Suatu petang dalam suatu program dakwah di sebuah madrasah, Fikri dikejutkan dengan ungkapan ikhlas dari sahabat lamanya, Nusaibah. Fikri sekali lagi gusar, takut-takut Nusaibah tidak dapat menjadi sayap kiri perjuangannya selepas berumahtangga nanti. Isteri pertamanya sudah pasti membawa Fikri menemui Tuhannya, namun, Nusaibah yang kurang dikenalinya adakah sama seperti Fatimah atau tidak?

Fikri masih ragu, tetapi tidak bermakna lamaran Nusaibah ditolak. Dia meminta sedikit waktu untuk memikirkan keputusan tersebut.

Setelah mendalami pemikiran Nusaibah dari beberapa sahabat terdekatnya, Fikri berjumpa dengan Nusaibah bersama sahabat baiknya. Dengan tegas dan yakin, sekali lagi Fikri mengulangi pertanyaan yang pernah ia sampaikan kepada Fatimah.

"Anti bersedia menjadi isteri kedua saya?" tanya Fikri tanpa segan lagi.

"Bersedia," jawab Nusaibah ringkas.

"Be, betulkah ini?" tergagap Fikri menerima jawaban Nusaibah yang tenang dan yakin.

Nusaibah mengangguk kepalanya sedikit. Langsung tiada rasa takut maupun kecewa terhadap lamaran sebagai isteri kedua yang dilafazkan oleh Fikri.

"Kenapa bersedia?" tanya Fikri ingin tahu.

"Saya ingin membantu gerak kerja dakwah akhi," jawab Nusaibah yakin tetapi sedikit malu.

"Baiklah," jawab Fikri tersenyum.

Akhirnya, Fikri dikaruniai sayap kiri yang sangat membantu dalam gerak kerja dakwahnya selama ini.

Setelah seminggu mendirikan rumahtangga bersama Nusaibah, Fikri merasa dakwahnya semakin melaju. Jadualnya lebih terencana, pakaiannya dijaga, makannya tersedia. Malah, Nusaibah sangat membantu gerak kerja Fikri semampu mungkin. Setiap kali turun ke lapangan untuk berdakwah, Fikri membawa Nusaibah untuk membantu kerja dakwah seadanya.

Kadang-kala letih menyinggahi Nusaibah. Suaminya terlalu sering keluar berdakwah, seperti mesin yang tiada hayat. Namun, inilah yang dia yakini sebelum menikah dengan Fikri. Membantu suami melancarkan gerak kerja dakwah. Nusaibah juga berjaga-jaga takut dirinya pula yang menjadi penghambat atau penghalang dakwah suaminya.

"Abang, saya mau tanya boleh?" sapa Nusaibah dalam mobil sewaktu dalam perjalanan ke sebuah program dakwah.

"Ya sayang?" jawab Fikri sambil memandu.

"Abang tak pernah sekalipun bawa saya menjumpai isteri pertama abang," keluh Nusaibah yang sangat teringin berjumpa dengan madunya.

"Kalau sudah sampai di sana nanti, kita akan berjumpa, sabar syang" Fikri menoleh sedikit ke arah Nusaibah, sambil tersenyum dan membelai kepalanya.

"Yee? Dia datang ke acara itu rupanya," jawab Nusaibah riang.

Hatinya berdebar ingin berjumpa madunya yang banyak membantu Fikri dalam gerak kerja dakwah. Di sudut kecil Nusaibah, dia merendah diri kerana usahanya membantu dakwah suaminya hanya sedikit dibanding dengan isteri pertama Fikri yang banyak membantu selama ini. Tidak heranlah Fikri aktif dalam dakwah sebelum ini.

"Kita dah sampai," Fikri membuka pintu mobilnya sambil memegang tas berisi fail ditangannya.

Fikri berdiri, mengadap ke arah sebuah menara di hadapan masjid, lalu menoleh ke arah Nusaibah yang berdiri di sebelah kiri mobil.

"Itu isteri pertama abang," Fikri menuding jari ke arah menara masjid tersebut.

"Mana bang?" Nusaibah mengecilkan matanya, fokusnya mencari arah jari Fikri.

"Tak kelihatan," Nusaibah meninggikan sedikit hadapan kakinya.

"Siapa nama isteri pertama abang?" Nusaibah sangat berdebar.

Fikri tersenyum lebar, memandang Nusaibah penuh tenang.

"Perjuangan, " jawab Fikri.

***

"Katakanlah (Wahai Muhammad): "Jika bapa-bapa kamu, dan anak-anak kamu, dan saudara-saudara kamu, dan isteri-isteri (atau suami-suami) kamu, dan kaum keluarga kamu, dan harta benda yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu bimbang akan merosot, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, - (jika semuanya itu) menjadi perkara-perkara yang kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (daripada) berjihad untuk agama-Nya, maka tunggulah sehingga Allah mendatangkan keputusan-Nya (azab siksa-Nya); kerana Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (durhaka)."

[QS al-Taubah 9:24]